Breaking News

Home / Advertorial / News

Sabtu, 6 Juni 2026 - 20:03 WIB

KETIKA PARA PAHLAWAN PEREMPUAN ACEH KEMBALI BERSUARA

Banda Aceh โ€“ Tidak semua perjuangan diwariskan melalui monumen. Sebagian hidup dalam cerita. Sebagian lainnya bertahan dalam ingatan. Namun ada pula yang perlahan memudar karena tak lagi diceritakan.

Melalui program โ€œSulih Suara (Voice Over) Adaptasi Cerita Pahlawan Perempuanโ€, Komunitas Voice Over Aceh, Akselerasi Indonesia Maju, kolaborasi dengan Amanah berupaya menghidupkan kembali kisah-kisah perempuan Aceh yang telah mengukir sejarah bangsa melalui medium yang sederhana namun kuat: suara.

Program ini akan menghadirkan adaptasi audio drama dari kisah tiga tokoh perempuan besar Aceh, yaitu Cut Nyak Dhien, Laksamana Malahayati, dan Teungku Fakinah, yang selama ini dikenal sebagai simbol keberanian, keteguhan iman, kepemimpinan, dan pengorbanan. Ungkap Sahreza Ketua Komunitas VO Aceh

โ€œMelalui karya sulih suara, masyarakat tidak hanya akan mendengar fakta sejarah, tetapi juga merasakan emosi yang menyertainyaโ€™ .tambah Reza

Pendengar akan diajak menyelami kesedihan Cut Nyak Dhien saat kehilangan suami dan keluarganya akibat perang, menyaksikan tekadnya untuk terus memimpin perlawanan hingga masa pengasingan. Mereka juga akan mengikuti perjalanan Laksamana Malahayati yang bangkit dari kehilangan keluarga, membentuk pasukan Inong Balee, dan memimpin ribuan perempuan Aceh menjaga martabat negeri di lautan. Sementara itu, kisah Teungku Fakinah menghadirkan sosok ulama perempuan yang tidak hanya memimpin benteng pertahanan rakyat, tetapi juga membangun kekuatan melalui pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Ketiga tokoh tersebut menunjukkan bahwa perempuan Aceh bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga penggerak sejarah itu sendiri.

Program ini hadir di tengah kebutuhan untuk menghadirkan narasi lokal yang lebih dekat dengan generasi muda. Di era digital, ketika perhatian publik semakin singkat dan kompetisi informasi semakin tinggi, pendekatan audio dinilai mampu menjembatani sejarah dengan cara yang lebih personal dan menyentuh.

Baca Juga:  Disdik Dayah Aceh Terlibat Aktif dalam Evaluasi Penanganan Bencana Hidrometeorologi

Selain menghasilkan karya audio drama, program ini juga membuka ruang belajar dan berkarya bagi talenta muda Aceh, khususnya perempuan, melalui pelatihan voice over, penulisan naskah, pembacaan karakter, produksi audio, hingga distribusi digital. Dengan demikian, program ini tidak hanya melestarikan sejarah, tetapi juga menciptakan peluang baru dalam industri kreatif berbasis suara.

Faisal Ilyas Pengurus Amanah menyampaikan bahwa proyek ini merupakan bentuk penghormatan terhadap perempuan-perempuan Aceh yang telah mewariskan keberanian kepada generasi berikutnya.

“Kami ingin generasi hari ini tidak hanya mengenal nama Cut Nyak Dhien, Malahayati, atau Teungku Fakinah dari buku pelajaran. Kami ingin mereka mendengar suara perjuangannya, merasakan emosinya, dan memahami nilai-nilai yang mereka wariskan kepada kita semua.”

Melalui kolaborasi dengan komunitas kreatif, pelaku budaya, studio rekaman, media, dan institusi pendidikan, program yang didukung Kementerian Kebudayaan, Dana Indonesiana, dan LPDP diharapkan menjadi model inovasi pemajuan kebudayaan yang mampu menghubungkan sejarah, teknologi, dan pemberdayaan masyarakat.(**)

Share :

Baca Juga

Agama

Kepala Dinas Syariat Islam Aceh Saksikan Pemuda Tionghoa Banda Aceh Ucap Syahadat di Masjid Raya Baiturrahman

News

Komisi I DPRA Kunjungan Ke KemenHAM, Bawa 5.195 Data Korban HAM Aceh Untuk Diperjuangkan

News

Masih tertutup lumpur, Prajurit Yonif 115/ML bersihkan SDN 04 Kuala Simpang”

News

Pemko Banda Aceh Terima 74 Mahasiswa PPL Ilmu Administrasi Publik UMSU

Aceh Besar

Siswa Berprestasi Banda Aceh Terbang ke Program IKON: Wali Kota Illiza Beri Pesan Semangat untuk Generasi Muda

Aceh

Marlina Muzakir Tinjau Langsung Kondisi Pengungsi Banjir di Aceh Utara

Bank Aceh

Bank Aceh berhasil meraih penghargaan pada kategori PUJK dengan Program Literasi Keuangan Teraktif

Aceh Besar

Tingkatkan SPBE, Pemkab Aceh Besar Studi Tiru ke Sumedang